Friday, May 15, 2015

Keseimbangan Cairan dan Elektrolit


KESEIMBANGAN CAIRAN 
DAN ELEKTROLIT

 

I. PENDAHULUAN


  Sel adalah unit fungsi dasar tubuh manusia. Agar sel tubuh dapat melakukan tugas fisiologi individualnya, diperlukan lingkungan yang stabil, termasuk pemeliharaan suplai nutrient yang mantap dan pembuangan sisa metabolisme secara kontinyu.
Regulasi cermat dari cairan tubuh menjamin lingkungan internal yang stabil. Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makan dan minum, dan dikeluarkan dalam jumlah yang relatif sama.
Ketika terjadi gangguan homeostasis, harus segera diberikan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit.

II. FISIOLOGI CAIRAN DAN ELEKTROLIT TUBUH


                Tubuh manusia sebagian besar (60 %) terdiri dari cairan. Total cairan tubuh ini bervariasi menurut umur, berat badan dan jenis kelamin. Total cairan tubuh (%) akan menurun dengan bertambahnya umur. Lemak mengandung sedikit air, sehingga orang gemuk mempunyai risiko tinggi pada kehilangan cairan oleh karena cadangan cairan yang lebih rendah. 40 % berat badan merupakan zat padat yang terdiri dari protein   18 %, lemak 15 %, mineral 7 %.

Total Cairan Tubuh            :
·         Laki-laki dewasa         : 60 % BB
·         Wanita dewasa            : 54 % BB
·         Orang tua                      : 52 % BB
·         Anak-anak, bervariasi   : Bayi baru lahir               : 80 %
                                              Bayi 3 bulan           : 70 %

Cairan tubuh didistribusikan/disebarkan ke ruangan-ruangan/kompartemen – kompartemen yaitu :

2 Kompartemen utama  : 

Kompartemen  CES  20 %, kompartemen  CIS  40 %  dan sedikit kompartemen transeluler yang merupakan hasil metabolisme sel terdiri dari bahan-bahan sekresi seperti sekresi gastrointestinal (saliva, cairan lambung, usus, feces), urine dan keringat.
Analisa sekresi dapat membantu menentukan kehilangan cairan dan elektrolit serta mengganti dengan tepat jumlah sekresi misalnya melalui NGT diganti kira-kira      60 %.
Kompartemen CES terbagi dalam 5 % cairan intravaskuler dan 15 % cairan intertisial Cairan intravaskuler sejumlah 5 % tersebut adalah plasma darah sedangkan volume darah adalah 8 % dari berat badan. Pada neonatus cairan bisa sampai            10 % BB. Air secara bebas berpindah-pindah diantara ruangan CES dan CIS sampai terjadi keseimbangan dalam nilai osmolaritas di kedua ruangan tersebut.

Hubungan Antara Kompartemen-kompartemen

Ruang intravaskuler dipisahkan dari ruang intertisial oleh membran kapiler. Membran kapiler bersifat permeabel terhadap air, elektrolit dan molekul kecil tetapi tidak permeabel terhadap protein dan molekul besar. Ruang intertisial dipisahkan oleh membran sel. Zat-zat dapat melewati membran sel melalui proses aktif maupun pasif yaitu difusi, filtrasi, ficilitated diffusion.

Isi Cairan Tubuh
Dalam cairan tubuh terdapat bahan / zat yang terlarut yang terdiri dari elektrolit dan non elektrolit. Elektrolit adalah molekul-molekul yang pecah menjadi partikel-partikel bermuatan listrik (terionisasi) yaitu kation dan anion. Kation adalah ion bermuatan positif dan anion adalah ion yang bermuatan negatif. Jumlah kation dan anion selalu dipertahankan keseimbangannya. Non elektrolit adalah molekul-molekul yang tetap tidak berubah misalnya dextrose, ureum, kreatinin.
Dalam CIS, kation yang terbanyak adalah Kalium, anion yang terbanyak adalah Phosphat. Dalam CES, kation yang terbanyak adalah Natrium, anion yang terbanyak adalah Chlorida.

Komposisi Elektrolit

Kation (m Eq/L)                  CES                                        CIS
     Na                                                      142                                           15
     K+                                                          5                                          150
     Ca ++                                                    5                                              2
     Mg ++                                                   1                                            27
Anion
     HCO3-                                                24                                           10
     Cl -                                                     105                                             1
     HPO4 -                                                  2                                          100
     SO4 -                                     1                                            20

Fungsi Elektrolit   : Ikut mengatur cairan tubuh melalui tekanan osmotik.
Penilaian tekanan osmotik adalah dalam milli osmole (mOsm).
Milli osmole                          : Ukuran partikel yang aktif secara osmotic di dalam larutan.
Milli mole                              : Ukuran jumlah partikel dalam larutan.
Osmolalitas                           : Jumlah milli osmole zat terlarut per Kg zat pelarut.
Osmolaritas                          : Jumlah milli mole zat terlarut per Liter zat pelarut.
Untuk memudahkan osmolalitas dan osmolaritas dianggap sama.
Tonocity                                : Pengukuran hasil perhitungan dari partikel-partikel yang aktif  secara osmotic dan nilai kira-kira sama dengan osmolaritas.

Tekanan osmotik ditentukan oleh total bahan terlarut di dalam larutan. Penilaian tekanan osmotik adalah milli osmole (mOsm). NaCl adalah bahan terlarut paling utama dalam CES sehingga perhitungan osmolaritas dianggap mendekati                                     ( 2 x Na serum ) + 10 ® (2 x 140) + 10 = 290.
Dalam klinik : osmolaritas dan tonicity normal adalah 290 ± 10 m Osm/lt. Cairan disebut isotonik bila nilai 280 – 300 m Osm/Lt. Jumlah air dengan jumlah partikel osmotik yang aktif di dalamnya adalah seimbang.
Cairan disebut hipertonik bila nilai > 300 m Osm/Lt. Tekanan osmotik naik karena jumlah partikel osmotik yang aktif lebih banyak dari jumlah air.
Cairan disebut hipotonik bila nilai < 280 m Osm/Lt. Tekanan osmotik lebih rendah karena jumlah partikel osmotik yang aktif lebih kecil dari jumlah air pelarutnya.

Mekanisme Pengaturan Keseimbangan Cairan Tubuh dan Elektrolit

1.       Tekanan osmotik
Perpindahan air melalui membran semi permiabel dari tempat yang mempunyai konsentrasi larutan rendah ke tempat yang mempunyai konsentrasi larutan lebih tinggi sampai mencapai konsentrasi larutan yang sama pada kedua tempat tersebut. Perpindahan ini ditentukan oleh besarnya osmolaritas cairan.
Tekanan osmotik (mmHg) = 19,3 x Osmolaritas. Bila osmolaritas serum Normal
( m Osm / Lt ), nilai tekanan osmotic total > 5400 mmHg.
Besarnya osmolaritas CES ditentukan oleh banyaknya Natrium. Bila konsentrasi Na meningkat ( hipernatremi ) osmolaritas meningkat, akan menarik air dari intra sel ke ekstrasel. Sebaiknya bila hiponatrium, air masuk ke intraseluler.
Pada CIS → osmolaritas ditentukan oleh Kalium (karena ion  K + terbanyak)

2.       Tekanan koloid osmotic (Tekanan onkotik plasma)
Adalah tekanan osmotic yang ditimbulkan oleh larutan koloid protein plasma.
Walaupun nilainya kecil (25 mmHg) tekanan onkotik ini sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara cairan interstisil dengan plasma. Bilamana permeabilitas membran normal, kemampuan koloid seperti albumin dalam menahan air antara 14 – 15 ml air / gram albumin (HES : 16 – 17 ml air/ Gram HES).
Besarnya tekanan koloid osmotic tergantung dari jumlah molekul protein dalam plasma, sehingga albumin sangat menentukan tinggi rendahnya tekanan koloid osmotik.
Albumin → BM = 69.000, Globulin → BM = 140. 000 Karena BM yang besar, protein sulit menembus dinding kapiler.
Dalam jaringan interstisial ada juga albumin dalam jumlah kecil, tekanan koloid osmotic hanya 5 mmHg. Besarnya selisih tekanan koloid osmotic pada intravaskuler dan interstisial ini yang dapat menahan cairan dalam ruang intravaskuler. Bila kadar albumin dalam plasma menurun daya menahan air dalam ruang intravaskuler menurun, air keluar ke interstisial sehingga terjadi oedema.

3.       Terhadap hidrostatik dalam kapiler
Tekanan ini berpengaruh pada keluar masuknya air melalui dinding pembuluh darah. Tekanan koloid osmotic dalam pembuluh darah ± 25 mmHg. Tekanan darah pada ujung arteri adalah 35 mmHg dan pada ujung vena adalah 15 mmHg. Ini menyebabkan air dan ion pada ujung arteri dapat berdifusi keluar dari intravaskuler dan pada ujung vena berdifusi masuk ke intravaskuler.

4.       Pompa Natrium
Na cenderung masuk sel secara difusi dari CES yang konsentrasi tinggi ke CIS yang konsentrasi rendah. Ini dicegah dengan mekanisme pompa Na yang cenderung mengeluarkan Na dari intrasel ke ekstrasel dan sebaliknya terjadi pada kalium dengan arah yang berlawanan. Pompa Natrium ini tergantung pada adanya ATP. Pada keadaan sepsis atau hipoksia, fungsi pompa Na terganggu sehingga Na masuk dalam sel (intrasel) dan Kalium keluar ke ekstrasel (hiponatremi dan hiperkalemi).

5.       Permeabilitas pembuluh darah
Dalam keadaan normal, dinding pembuluh darah tidak dapat dilalui oleh protein plasma. Tetapi pada keadaan tertentu seperti DSS, permeabilitas kapiler menurun, sehingga protein plasma terutama albumin dapat melewati membrane kapiler keluar ke rongga interstisial. Keluarnya protein plasma ini akan diikuti oleh keluarnya cairan dan elektrolit dari intravaskuler sehingga terjadi hipovolemi dan syok. Demikian juga pada luka bakar, cairan plasma dapat keluar dari intravaskuler kerongga interstisial.

6.       ADH
Adalah Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisia posterior (Pituitary Posterior) Ada 2 jenis rangsangan yang dapat menyebabkan sekresi ADH yaitu :
1 ) Rangsangan Primer (Hiperosmolaritas dan Hipovolemia)
2 ). Rangsangan sekunder (Trauma, syok, operasi, infeksi)
Rangsang Primer :
1 ). Hiperosmolaritas :
v   Peningkatan osmolaritas serum merangsang osmoreceptor di hipotalamus untuk, mengeluarkan ADH
v   ADH akan merangsang duktus koletikus di ginjal untuk merabsorsi air yang akan masuk kesistim sirkulasi
2 ). Hipovolemik :
v   Menyebabkan penurunan MAP, akan menyebabkan rangsangan pada baroreceptor yang terletak di jantung yang diteruskan lagi kehipofisa posterior yang menyebabkan sekresi ADH
v   ADH akan masuk ke sistim sirkulasi dan menyebabkan vasokontriksi, dan MAP akan dipertahankan/ naik kembali
7.       Aldosteron :
Dihasilkan oleh lapisan luar dari korteks adrenal yaitu zona glomerulosa.
Ada 3 faktor yang mempengaruhi sekresi aldosteron, antara lain :
1). Sistim renin – angiotensisn
2). Kadar K serum
3). Sekresi ACTH  dari pituitary anterior
1.       Sistim renin – Angiotensin
Dirangsang oleh keadaan – keadaan hipotensi, penurunan volume intravaskuler, dan peningkatan tonus simpatis
2.       Kadar K Serum :
Merupakan stimulator yang cukup kuat untuk disekresinya aldosteron.
Peningkatan Kadar Kalium dari 3.5 meq/l menjadi 6 meq/L akan meningkatkan aldosteron 30 – 60 x lipat.
3.       Sekresi ACTH yang menyebabkan pelepasan Aldosteron berlangsung selama 24 jam.

Aldosteron bekerja ditubulus distal ginjal yang mereabsorsi Na diikuti Reabsorsi Air, sedangkan pengeluaran Kalium bersamaan dengan urine.

III.               KELAINAN KESEIMBANGAN CAIRAN 

Hipovolemia

Penipisan volume cairan ekstraselular (CES) disebut “hipovolemia“. Ini karena kehilangan melalui kulit, GI, dan ginjal abnormal, perdarahan, penurunan masukan cairan. Tergantung pada jenis kehilangan  cairan, hipovolemia dapat disertai dengan ketidakseimbangan asam basa, osmolar, atau elektrolit. Penipisan CES berat dapat menimbulkan syok hipovolemia. Mekanisme kompensasi pada hipovolemia termasuk peningkatan rangsang system saraf simpatis (Peningkatan frekwensi jantung, inotropik (Kontraksi jantung), dan tahanan vaskular, rasa haus, pelepasan hormon antidiuretika (ADH), dan pelepasan aldosteron. Hipovolemia lama dapat menimbulkan berkembangnya gagal ginjal akut.



GANGGUAN KESEIMBAGAN ASAM BASA

Dr. Enita Tampubolon



I. PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang keseimbangan asam basa sangat penting untuk diketahui pada saat menghadapi pasien – pasien sakit kritis oleh karena perubahan yang sangat cepat. Perubahan yang cepat ini sangat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh.
Seperti diketahui bahwa fungsi sel di dalam tubuh manusia akan berlangsung optimal jika pH lingkungan sedikit alkalis, yaitu 7.40 atau konsentrasi ion Hidrogen sebesar 10 –7 m mol/l . Oleh sebab itu keseimbangan ion Hidrogen diatur secara ketat oleh tubuh.
Keseimbangan asam basa merupakan refleksi konsentrasi ion H+ dalam tubuh yang direpresentasikan melalui pH.
Peninggian ion Hidrogen, larutan menjadi lebih asam, sebaliknya penurunan ion Hidrogen, larutan menjadi lebih basa.
Untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, tubuh mempunyai sistem buffer. Sistem ini terdiri dari larutan dengan garam-garam dari suatu asam lemah atau basa lemah. Asam dan basa lemah ini mempertahankan nilai pH dengan menambah atau melepaskan ion-ion Hidrogen. Asam-asam akan melepaskan ion Hidrogen dan basa-basa akan menerima ion Hidrogen. Selain sistem buffer ini, pH juga diatur oleh mekanisme regulasi. Regulasi dilakukan oleh paru sebagai komponen respirasi dan ginjal sebagai komponen metabolik. Kedua komponen ini berinteraksi secara simultan sehingga keseimbangan ion Hidrogen selalu stabil.
Penilaian terhadap adanya gangguan keseimbangan asam basa tubuh dikenal sebagai Formula Hendersen – Hasselbach.
Persamaan ini digunakan oleh mesin analisa gas darah saat ini, yaitu :

pH = pK + Log [ HCO3- ]
             H2CO2

Yang dimaksud dengan asam ialah molekul atau ion yang dapat menerima satu proton (H+) :
                                Asam                     Proton                    Basa

                                  BH                           H+                          B-

Makin cepat asam dapat memberi donasi makin kuat asam tersebut.
Dikatakan asam kuat adalah asam yang mudah berdisosiasi sehingga dapat melepas hidrogen dalam konsentrasi tinggi. Hal yang sama berlaku untuk basa.

Dalam keadaan seimbang maka :

                                K = (H+) (B-)
                                          (HB)

Persamaan ini dapat diubah menjadi :

                                (H+) = K (HB)
                                                    (B-)

Sorenson menggunakan istilah pH untuk memudahkan menyatakan konsentrasi.
Hidrogen dalam larutan.
PH adalah logaritma negatif kadar ion Hidrogen bebas, sehingga persamaan dapat ubah menjadi  :

­ Log ( H + ) = - Log   K  + Log ( B ¯ )
                    HB

                        PH  = - Log K  + Log  ( B ¯ )

(  HB )

pH = pK + Log ( Basa )

 ( Asam )


Penilaian keseimbangan asam basa biasanya melalui pemeriksaan analisa gas darah, karena pembentukan asam basa berhubungan erat dengan pembentukan gas darah.
Dimana pemeriksaan gas darah arteri ini berguna untuk menunjang pengobatan dalam penatalaksanaan pasien – pasien penyakit berat yang akut dan menahun, bila hasil pemeriksaan itu ditafsirkan dengan betul.

II. FISIOLOGI KESEIMBANGAN ASAM BASA


Pada dasarnya pH atau derajat keasaman darah tergantung pada konsentrasi ion Hidrogen, yang dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor, yaitu :

A. Mekanisme dapar kimia
     Ada 4 macam dapar kimia utama dalam tubuh yaitu :
     1).  Sistim dapar bikarbonat – asam karbonat
-          Sistem ini merupakan jumlah terbesar yang terdapat dalam cairan extra cellular.
-          Reaksi terhadap Asam :
HCL + Na HCO3  ® H2 CO3 + Na CL, dimana
               H2 CO3            ® H2O + CO2

-          Reaksi terhadap basa
NaOH + H2CO3  ® Na HCO3 + H2O

Karena pentingnya bikarbonat dan asam karbonat dalam mempertahankan keseimbangan asam – basa, maka pH darah ditentukan berdasarkan perbandingan konsentrasi bikarbonat dan asam karbonat dalam plasma yang ditunjukkan dalam persamaan Henderson – Hasselbach :

pH = pK + Log [ HCO3- ]
  [ H2CO3 ]

dimana :
-          Kadar normal bikarbonat plasma = 24 mEq / l
-          Asam karbonat   [ H2CO3 ] = 1.2 mEq / l
-           pK sistim bikarbonat – asam karbonat = 6.1

Bila konsentrasi bikarbonat dalam darah meningkat atau konsentrasi asam karbonat berkurang, maka perbandingan bikarbonat – asam karbonat akan meningkat dan pH menjadi lebih besar dari nilai normal, keadaan ini disebut ® Alkalosis.
Sebaliknya bila konsentrasi bikarbonat dalam darah berkurang atau konsentrasi asam karbonat meningkat, maka perbandingan bikarbonat – asam karbonat akan berkurang, dan pH menjadi lebih kecil dari normal, ini disebut ® Asidosis.

     2).  Sistim dapar Fosfat
-          Sistim ini terutama terdapat didalam sel darah merah dan sel-sel lain terutama didalam sel tubulus ginjal, yang memungkinkan ginjal mengeluarkan ion hidrogen.
-          Dapar fosfat terdapat dalam bentuk Na2 HPO4 dan Na H2 PO4.
Reaksi terhadap asam               :
       
        HCL + Na2 HPO4 ® Na Cl + Na H2 PO4

Reaksi terhadap basa :

        NaOH + Na H2 PO4 ® Na2 HPO4 + H2O

     3).  Sistim dapar protein
-          Sistem ini terutama terdapat di dalam sel-sel jaringan dan juga bekerja di dalam plasma. Dapat bekerja sebagai asam lemah dan basa lemah ataupun garam basa yang dapat mengikat atau melepaskan ion hydrogen.

     4).  Sistim dapar hemoglobin
-          Hb bekerja sebagai asam lemah dan membentuk sistim dapar dengan basa kuat seperti bikarbonat dan fosfat.

B. Mekanisme Pernafasan (Paru)
Karbondioksida (CO2) merupakan sisa / produk metabolisme sel. Dari sel CO2 akan ditranspor melalui plasma dan sel darah merah menuju paru untuk dieliminasi.
Secara normal ventilasi alveolar akan memepertahankan PaCO2 antara 35 – 45 mmHg dimana PaCO2 di dalam alveolus berada dalam keseimbangan dengan PaCO2 dan     H2 CO3 dalam darah. Namun jika kemampuan ventilasi alveolar tidak sebanding lagi dengan produksi CO2, yang menyebabkan PaCO2 meningkat, yang akan diikuti dengan perangsangan pusat pernafasan, sehingga timbul hiperventilasi untuk mengeluarkan CO2 lebih banyak, demikian juga sebaliknya.

C. Mekanisme Ginjal
Pada keadaan keasaman darah yang meningkat, ginjal akan mengeluarkan ion hidrogen dan menahan ion HCO3- untuk mempertahankan pH darah dalam batas normal, sehingga akan menghasilkan urine yang bersifat asam ( pH : 5,5 – 6,5 ).
Mekanismenya terdiri dari :
1). Reabsorpsi ion HCO3-
Dalam keadaan normal seluruh ion bikarbonat yang keluar melalui glomerulus dan masuk ke dalam tubulus urine akan diabsorpsi kembali di tubulus renalis dengan pertukaran ion hidrogen yang dihasilkan oleh sel tubulus dengan ion Na+ yang berasal dari tubulus urine.

2). Asidifikaasi dari garam-garam dapar
Akan terjadi pertukaran ion hidrogen dengan garam fosfat, ion hidrogen akan masuk ke dalam tubulus urine untuk bergabung dengan Na HPO4 yang dikeluarkan ke dalam urine.

 3). Sekresi Amonia
NH3 yang akan dibentuk dari hasil oksidasi asam amino glutamin akan diubah menjadi NH4 yang dikeluarkan sebagai NH4Cl.

III. PARAMETER ANALISA GAS DARAH ( AGD )

1). pH     :  ( N : 7,35 – 7,45 )
-          pH adalah fungsi logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen dalam plasma darah, dimana bila konsentrasi ion hidrogen meningkat menyebabkan pH akan menurun demikian sebaliknya.
-          Perubahan pH yang mengikuti perubahan pCO2 karena gangguan ventilasi akan mengakibatkan ® Asidosis atau Alkalosis Respiratorik dan perubahan pH yang mengikuti perubahan HCO3- akan mengakibatkan ® asidosis atau alkalosis metabolic.

2). PaCO2              :  ( N : 35 – 45 mm Hg )
-          PaCO2 adalah tekanan dari CO2 yang terlarut dalam darah.
-          PaCO2 merupakan parameter fungsi respirasi dan dapat digunakan untuk menentukan cukup atau tidaknya ventilasi alveolar
-          Bila PaCO2 normal ® berarti ventilasi alveolar normal
-          Bila PaCO2 < 35 mm Hg ( Hipokapnia ) ® berarti terjadi hiperventilasi akibat rangsangan pusat pernapasan, jika pH > 7,45 – keadaan ini disebut Alkalosis Respiratorik.
-          Bila PaCO2 > 35 mm Hg ( Hiperkapnia ) ® berarti terjadi hipoventilasi akibat kegagalan ventilasi alveolar, jika pH < 7,35 – keadaan ini disebut Asidosis Respiratorik.

 3). PaO2                :  ( N : 80 – 100 mm Hg )
-          PO2 adalah tekanan yang ditimbulkan oleh O2 yang terlarut dalam darah.
-          Dalam keseimbangan asam basa PaO2 hanya memberikan petunjuk fisiologis yang kecil, selain menunjukkan cukup tidaknya oksigenasi darah arteri.
-          Hipoksemia adalah keadaan dimana PaO2 < 60 mm Hg, sedangkan Hipoksia adalah keadaan dimana oksigen jaringan tidak adekwat.

4). Base Ekses / BE             :  ( N :  -2 s/d +2 )
-          BE atau Base Defisit, menggambarkan secara langsung jumlah dalam mEq/l kelebihan basa kuat (kekurangan asam tetap) atau kekurangan basa (kelebihan asam tetap).
-          Nilai +  : menggambarkan kelebihan basa
-          Nilai -   : menggambarkan kekurangan basa (kelebihan asam)
-          Astrup menyatakan bahwa nilai BE tidak saja digunakan untuk diagnosis tetapi juga untuk pengobatan asidosis metabolic, dengan formula  :

                                        Kebutuhan Basa  = BE x BB x 0,3 mEq

5). Standar Bikarbonat (SBC) & Actual Bikarbonat (ABC) :  ( N : 22 – 26 meq/L )
-          SBC adalah konsentrasi ion [ HCO3- ] dalam plasma pada PaCO2 40 mm Hg, suhu 370C dan pada keadaan Hb teroksigenasi penuh.
-          ABC digunakan untuk menyatakan kadar bikarbonat dalam darah penderita sesuai dengan PCO2 yang ada.
-          Jika konsentrasi ion HCO3- meningkat lebih dari normal yang menunjukkan hilangnya ion H+ secara significant, disertai pH > 7,45, keadaan ini disebut ® Alkalosis Metabolik. Sebaliknya bila konsentrasi ion HCO3- menurun / kurang dari normal disertai pH < 7,35, keadaan ini disebut ® Asidosis Metabolik.

6). Persentase Saturasi O2 / % Sat O2  :  ( N : 92 – 100 % )
-          Saturasi O2 setara dengan kandungan O2 ( dikurangi O2 terlarut ) dibagi dengan kapasitas O2 ( dikurangi O2 terlarut ).
-          Persentasi saturasi dari Hb dengan O2 ini sangat membantu untuk menghitung banyaknya O2 total di dalam darah.

IV. MACAM-MACAM GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA

1). Asidosis Respiratorik
Akibat pengeluaran CO2 yang terganggu, terjadi penumpukan CO2 dan
peningkatan H2CO3
      a). Penyebab :
-          Keadaan yang menyebabkan hipoventilasi ® gagal napas
-          Penekanan pusat pernafasan ® stroke, trauma kepala, over dosis obat
-          Penyakit otot pernafasan
-          Sumbatan jalan nafas
      b). Gejala :
-          Retensi CO2
-          Gangguan kesadaran ® gelisah, letargi, stupor, coma.
      c). Penatalaksanaan :
-          Memperbaiki ventilasi ® therapy penyakit penyebab
-          Intubasi ® ventilator mekanik
-          Tidak ada indikasi untuk pemberian Bicnat
2). Alkalosis Respiratorik
Akibat pengeluaran CO2 berlebihan pada hiperventilasi karena kehilangan CO2, H2CO3 berkurang.

      a). Penyebab :
-          Semua keadaan yang menyebabkan hiperventilasi
-          Hipoksemia
-          Anxietas, Histeria
-          Neurogenik hyperventilation ( trauma sistim syaraf pusat )
-          Ventilasi mekanik yang berlebihan
      b). Gejala :
-          Sesak napas
-          Cemas
-          Keram otot
-          Tetani
-          Kejang
      c). Penatalaksanaan :
-          Terapi penyakit penyebab
-          Memperbaiki oxigenasi
-          Rebreathing mask
-          Sedasi & tranquilizer
-          Bila dengan ventilator ® penyesuaian ventilator ( RR ¯ / TV ¯ )

3). Asidosis Metabolik
                Adalah keadaan dengan kekurangan HCO3
      a). Penyebab :
-          Gagal ginjal                                                  - Diare
-          Diabetik ketoasidosis
-          Laktik asidosis
-          Starvation
-          Keracunan salisilat, etile glikol
      b). Gejala :
-          Pernapasan kussmaul ( dalam dan cepat )
-          Gangguan kesadaran ® disorientasi, gelisah, coma
      c). Penatalaksanaan :
-          Therapy penyakit penyebab
-          Pemberian Bicnat ( bila Anion Gap normal )


4). Alkalosis Metabolik
 a). Penyebab :
-          Muntah
-          Pemakaian diuretik
-          Suction NGT, diare
-          Cushing syndrome
-          Pemberian Bicnat
-          Penggunaan antasid yang berlebihan
      b). Gejala :
-          Apatis
-          Gangguan mental
-          Nafas dangkal ( depresi pernafasan )
-          Tetani
-          Otot-otot spastik
      c). Penatalaksanaan :
-          Mengatasi muntah / kehilangan cairan melalui GI dengan pemberian larutan NaCl  0,9 % ( saline )
-          Monitoring pemakaian diuretic, gunakan acetazolamide jika alkalosis menetap, untuk meningkatkan ekskresi HCO3- melalui ginjal
-          Koreksi kekurangan kalium
-          Mengurangi pemakaian antasid yang alkalis

Langkah-langkah praktis penilaian AGD :
1).  Mulai dengan melihat setiap nilai dari hasil AGD
Tentukan nilainya meningkat, menurun atau normal.
Contoh :        pH = 7,50  ®  meningkat, dinyatakan sebagai Alkalosis.
2).  Menentukan oksigenasi adekuat / tidak, dengan menilai PaO2 dan SaO2.
3).  Tentukan keadaan asam – basa melalui penilaian pH.
4).  Tentukan gangguan asam – basa adalah Respiratorik atau Metabolik.
Lihat perubahan PaCO2 ( Respiratorik ) dan perubahan HCO3- ( Metabolik ) sesuai dengan perubahan nilai pH.
Gunakan BE untuk menentukan interpretasi yang diambil, khususnya bila gangguannya adalah gabungan.
5).  Menentukan tingkat kompensasi.
a).   Perhatikan sistim  ( Respirasi / Metabolik ) yang yang tidak sesuai dengan pH       untuk menentukan ( Normal / tidak ) dalam upaya mengoreksi gangguan asam basa.
b).   Tanpa Kompensasi :
Nilai dari sistim yang berlawanan adalah normal, berarti tidak terjadi kompensasi.
pH diasumsikan tidak normal.
c).    Kompensasi Sebagian :
Jika nilai dari sistim yang berlawanan tidak sesuai ( meningkat / menurun ) dan pH tetap tidak  normal, berarti terjadi kompensasi sebagian
d).    Kompensasi Komplit :
Jika nilai dari sistim yang berlawanan tidak sesuai ( meningkat / menurun ) dan pH normal.


Contoh AGD  :
·         pH                  : 7,34                      ® Asidosis
·         PaO2               : 129                       ® Oksigenasi adekwat
·         PaCO2            : 48                         ® Asidosis
·         HCO3-            : 26                         ® Normal
·         BE                  : +1                         ® Normal
·         SaO2               : 99 %                    ® Normal
Interpretasi           : - Asidosis Respiratorik tanpa kompensasi
                                  - Oksigenasi Adekwat

-   Pasien dengan Bronkitis kronik, emfisema dan cor Pulmonale di therapy dengan digitalis  dan diuretik.
    pH                      : 7,40                      ® Normal
    PaO2                   : 57                         ® Hipoksemia
    PaCo2 : 58                         ® Asidosis
    HCO3 : 35                         ® Alkalosis
    BE                      : +9                         ® Alkalosis
    SaO2                   : 89 %                    ® Hipoksemia
    Interpretasi       : - Alkalosis metabolik dengan kompensasi respirasi komplit
                                  - Hipoksemia 

Kesimpulan        

-          Keseimbangan asam basa berperan penting untuk memberikan lingkungan dimana fungsi sel-sel di dalam tubuh manusia akan berlangsung optimal.
-          Keseimbangan asam basa secara fisiologis dipertahankan dalam batas normal melalui 3 faktor yaitu sistim buffer kimia, mekanisme pernapasan dan mekanisme ginjal.
-          Gangguan keseimbangan asam basa dapat dinilai melalui pemeriksaan Analisa Gas Darah arteri. Dan penanganan terhadap gangguan asam basa tersebut lebih diutamakan kepada therapi penyakit penyebab, sedangkan koreksi asidosis metabolik dengan pemberian Natrium Bikarbonat ( Bicnat ) hanya bila Anion Gap dalam keadaan normal.

KEPUSTAKAAN
1).  Dr. Muhardi Muhiman, Penatalaksanaan Pasien di ICU
2). Lynelle N.B. Pierce, RN, MS, CCRN : Guide To Mechanical Ventilation and  Intensive Respiratory Care.
3).  Royal Adelaide Hospital : Medical Manual  ICU 2001 Edition
4). Iqbal Mustafa, Yohanes WH George : Paradigma baru dalam penilaian status   keseimbangan Asam Basa.





Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 comments:

Post a Comment